Menguji Keyakinan atau Persepsi ?

by -70 views

Percayakan Anda bahwa keyakinan kita selama ini bisa salah ?

Kita acap kali keliru melihat dan mendengar suatu hal serta keliru menafsirkan suatu peristiwa.

Pikiran kita terus berputar, menghasilkan banyak dan semakin banyak asosiasi untuk membantu kita memahami dan mengendalikan lingkungan di sekitar kita.

Setiap hal yang berhubungan dengan pengalaman kita cenderung menghasilkan asosiasi dan hubungan yang baru dalam benak kita.

Kemudian otak kita dirancang untuk mempertahankan keyakinan pikiran kita bahkan jika melihat hal yang bertentangan dengan yang diciptakan pikiran, kita sering mengabaikannya dan tetap meyakininya apapun yang terjadi.

Apa yang terjadi sesungguhnya ?

Otak kita selalu mencoba untuk membuat situasi kita saat ini menjadi masuk akal berdasarkan apa yang telah kita yakini dan alami berdasarkan semua nilai dan kesimpulan yang telah kita punyai.

Prioritas terbesar pikiran kita ketika sedang mengolah pengalaman adalah menafsirkan pengalaman tersebut dengan cara tertentu agar cocok dengan semua pengalaman, perasaan dan keyakinan kita sebelumnya.

Namun sering kita menghadapi situasi kehidupan yang berbeda antara masa lalu dan masa kini, dan apa yang kita alami pada suatu momen bertentangan dengan semua hal yang telah kita anggap benar dan masuk akal dimasa lalu.

Kemudian apa yang terjadi ?

Dalam upaya mencapai kecocokan, pikiran kita kadang menciptakan memori palsu (false memory) dengan menghubungkan pengalaman kita saat ini dengan bayangan masa lalu tersebut, pikiran kita membuat kita bisa mempertahankan hasil asosiasi yang dilakukan otak kita terhadap 2 pengalaman atau lebih sebelumnya terhadap apa pun yang telah kita buat.

Dalam hal ini keyakinan kita bisa dipengaruhi dan ingatan kita tidak bisa diandalkan.

Mungkin hampir semua yang kita “ketahui” dan percayai merupakan hasil dari ketidakakuratan dan prasangka yang hadir dalam otak kita atau dengan kata lain hasil dari masa lalu yang keliru dipahami seluruhnya.

Kita perlu mempertanyakan nilai-nilai keyakinan yang telah memberi arti dalam kehidupan kita bertahun-tahun untuk berhadapan secara nyata dengan tujuan hidup kita agar menemukan jawaban yang paling tepat.

Perlu disadari bahwa kekeliruan akan membuka kemungkinan adanya perubahan, kekeliruan membawa kesempatan untuk tumbuh.

Beberapa momen yang sulit dan penuh tekanan dalam kehidupan kita, bisa merubah menjadi sesuatu yang sangat membangun dan memotivasi.

Sisi positifnya adalah kekeliruan tersebut merupakan proses pertumbuhan yang berulang yang tidak pernah berakhir.

Ketika mempelajari sesuatu hal yang baru kita bergerak dari salah menuju benar, kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri.

Sesungguhnya nilai yang kita miliki adalah hipotesis dan tindakan kita adalah eksperimen serta emosi yang muncul dari pola pemikiran kita adalah sumber informasi. Saatnya untuk menanyakan kembali maksud dan motivasi kita sendiri jika hati dan pikiran kita tidak dapat diandalkan.