Kepastian dalam suatu Ketidakpastian

by -64 views

Segala hal yang dianggap “baik” namun tidak membuat baik.

Banyak orang mempunyai suatu keyakinan yang tidak

tergoyahkan atas sesuatu hal yang telah mereka diyakini kebenarannya.

Namun manakala keyakinan mereka tersebut pada kenyataannya bertentangan dengan fakta, kemudian apa yang terjadi ? Mereka bisa merasa tidak dihargai dan tidak diakui bahkan bisa juga merasa diremehkan.

Pada akhirnya keyakinan tersebut malah membuat mereka merasa lebih buruk, bukannya lebih baik. “Orang-orang yang jahat tidak akan pernah percaya bila mereka jahat, melainkan mereka percaya bahwa orang lainlah yang jahat.”

Orang yang melakukan hal yang buruk tidak merasa bahwa tindakan mereka buruk, justru mereka mempunyai kepercayaan diri bahwa tindakan buruknya dibenarkan (inilah nilai kebenaran yang mereka yakini bahkan merasa pantas melakukannya karena mereka merasa memiliki hak istimewa untuk melakukannya.)

Atas dasar perasaan inilah yang memberi mereka semacam pembenaran untuk melukai atau berbuat buruk pada orang lain, terlepas dari realitas disekitar mereka.

Mengapa dapat terjadi keyakinan seperti ini?

Perlu dipahami bahwasannya nilai-nilai yang kita miliki tidak sempurna dan tidak penuh, namun kita seringkali sangat meyakini bahwa nilai-nilai tersebut sempurna dan penuh yang berarti menempatkan diri kita dalam sebuah pola pikir dogmatik yang dapat mengakibatkan tindakan yang buruk terhadap orang lain disekitarnya.

Ada suatu cerita dari seorang client pasutri kami, bahwa sang istri memiliki perilaku memeriksa pesan dalam ponsel suaminya. Pada akhirnya sang istri tidak menemukan seauatu pun, namun kemudian sang istri tetap mempunyai kecurigaan jangan-jangan sang suami mempunyai ponsel yang lain, bahkan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang suami dan terus berkembang dalam bentuk kecurigaan yang lainnya.

Sesungguhnya kecurigaan tersebut didorong oleh kerapuhan dan kegelisahan demi memperoleh KEPASTIAN.

Yang perlu di introspeksi apakah nilai kepastian yang diyakininya adalah benar-benar sesuai dengan realita (fakta), karena bilamana keyakinan yang kita anggap benar namun sesungguhnya tidak sesuai dengan realitasnya(fakta) maka akan terjadi hukum kebalikan semakin Anda ingin mendapatkan kepastian akan sesuatu, maka Anda akan semakin merasa tidak pasti dan tidak aman.

Kita semua memiliki nilai-nilai kita sendiri, kita cenderung melindungi nilai-nilai ini. Kita mencoba untuk menghidupinya dan mencari pembenaran atasnya. Begitulah cara kerja otak kita (bias dalam berpikir) berdasarkan apa yang sudah kita ketahui dan apa yang kita yakini.

Keyakinan selalu mengambil kendali atas diri kita.

Benarkah kita sendiri adalah orang yang paling tidak mengenal diri sendiri ?

Benarkah saat kita marah atau cemburu atau kecewa justru diri kita sendiri menjadi orang terakhir yang menyadarinya ?

Bagaimana jika selama ini pemahaman saya keliru tentang kepastian yang tidak rasional ?

Jika Anda belum mampu menemukan kekeliruan tersebut dalam diri Anda, maka tidak ada yang akan berubah.

Bila perlu review kembali identitas yang selama ini telah melekat dan kita yakini kebenarannya, bersikap rendah hati dalam penilaian Anda dan menerima berbagai perbedaan dari banyak orang karena ketika Anda merasakan ketakutan yang di dasari oleh suatu kepastian yang tidak rasional, Anda cenderung akan terserap ke dalamnya.

Semakin menerima sepenuhnya ketidaktahuan dan ketidakpastian akan banyak hal, akan membuat Anda nyaman karena tahu apa yang tidak Anda ketahui dan tetap terbuka untuk menemukan ketidakpastian-ketidakpastian melalui pengalaman hidup.

Ketidakpastian akan membebaskan kita dari penilaian kita terhadap diri sendiri dan hal ini akan memberikan kemajuan serta perubahan untuk hidup kita. “Manusia yang yakin dirinya mengetahui semuanya, tidak akan mempelajari sesuatu pun.”