Fakta Kecanduan Kebohongan

by -123 views

▶️ Sebuah Fakta Kecanduan Kebohongan

“Sekali Anda berbohong, maka Anda harus mempersiapkan kebohongan berikutnya.”
(Is it TRUE ?)

Apakah ciri-ciri nya demikian ?

  • Banyak kali menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai fakta
  • Membutuhkan perhatian dengan berbagai cara termasuk berbohong agar terlihat sempurna
  • Dalam kebohongan nya sudah tidak bisa menyadari bahwa diri nya sedang berbohong
  • Ketika kebohongan sudah berulang-ulang maka akan menjadi perilaku (yang menyimpang) dan tanpa disadari akan menjadi kebiasaan setiap hari nya tanpa perlu perencanaan dalam kebohongan nya.

Statement tersebut nyata nya bisa dijelaskan dalam ilmu sains, bahkan ketika orang berbohong maka akan menyebabkan seperti kecanduan (berkelanjutan) akan kebohongannya.

Apa sesungguhnya pemicu kondisi yang menyebabkan perilaku ini bisa secara terus-menerus terjadi ?

Dalam keadaan “terdesak” adalah alasan utama orang mulai berbohong demi mendapatkan keuntungan atau sekedar menyelamatkan diri dari situasi yang terburuk.

Sebenarnya banyak alasan lainnya yang diakui oleh sebagian besar orang sebagai alasannya untuk berbohong, seperti tidak mau menyakiti orang yang disayangi, ingin mengendalikan situasi, hingga mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. 
Padahal, semua alasan tersebut tidak lah perlu mereka lakukan.
Apapun alasannya, kebenaran adalah fakta yang paling baik untuk didengar.

Ketika terpikir untuk berbohong, maka dalam pikiran orang tersebut akan terlintas berbagai pertanyaan seperti

  • Apa yang akan saya dapatkan dari kebohongan?
  • Apakah kebohongan ini berdampak negatif pada saya?
  • Seberapa banyak masalah atau keuntungan yang bisa di dapatkan”.
    Berbagai pemikiran tersebut adalah pemicu mengapa seseorang berbohong.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience membuktikan sendiri bagaimana orang berbohong tak hanya cukup sekali saja. dalam penelitian ini, para ahli melihat dan menganalisis otak seseorang yang sedang berbohong.
Penelitian yang hanya mengajak 80 relawan ini membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan dari masing-masing peserta.
Kemudian, apa yang ditemukan dari penelitian tersebut?

Para ahli menyatakan bahwa kebiasaan berbohong tergantung dengan respon otak seorang individu.
Kondisi aat seseorang berbohong maka bagian otak yang paling aktif dan bekerja ketika itu adalah Amigdala (merupakan area otak yang berperan penting dalam mengatur emosi, perilaku, serta motivasi seseorang.)

Pada saat orang berbohong pertama kalinya, maka amigdala akan menolak perilaku yang Anda lakukan dengan menimbulkan respon emosi.
Respon emosi ini dapat berupa rasa takut yang muncul ketika berkata bohong.
Namun saat tidak terjadi hal yang buruk padahal sudah berkata bohong maka amigdala akan menerima perilaku itu dan kemudian tidak lagi mengeluarkan respon emosi, yang sebenarnya dapat mencegah Anda berbohong untuk ketiga kalinya.

Faktanya..sesungguhnya, otak akan melawan ketika berbohong, tetapi kemudian mulai beradaptasi terkait keadaan setelahnya.

Kebohongan sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh manusia, namun ketika kebohongan terjadi, pasti berbagai fungsi tubuh Anda berubah, seperti detak jantung lebih cepat, berkeringat lebih banyak, bahkan hingga gemetaran.
Ini artinya otak merespon kebohongan yang Anda ucapkan sebelumnya.
Anda merasa takut ketahuan dan akhirnya menjadi buruk bagi Anda. hal tersebut membuat otak melawan dan akhirnya muncul lah berbagai perubahan fungsi tubuh itu.

Apa yang terjadi saat kebohongan terjadi berulang kali , terlebih ketika kebohongan sebelumnya selalu berhasil, maka yang terjadi otak justru beradaptasi dengan kebohongan yang Anda lakukan.

Otak mengira bahwa tidak masalah jika berbohong satu kali, sehingga otak akan beradaptasi dan lama kelamaan tidak ada lagi perubahan fungsi tubuh ketika kebohongan dilakukan.
Selain itu, hal tersebut menandakan bahwa respon emosional terhadap kebohongan semakin rendah, sehingga pada akhirnya, perilaku kebohongan akan menjadi suatu kebiasaan hingga yang dikatakan adalah selalu penuh kebohongan.

(Artikel ini telah tayang pada portal news digital Hello Sehat)