Dampak Perselingkuhan Orang Tua terhadap Psikis Anak

by -0 views


Ratna Sari Psikolog – Mudah cemas hingga sulit percaya dengan orang lain.
Ketika sebuah hubungan rumah tangga terguncang karena perselingkuhan, dampaknya tak hanya dirasakan oleh pasangan suami istri. Anak yang menjadi saksi atau bahkan tanpa sengaja mengetahui adanya perselingkuhan, dapat mengalami tekanan emosional yang tak kalah berat.
Kepercayaan anak terhadap figur orang tua bisa runtuh seketika saat mereka menyadari adanya pengkhianatan dalam rumah. Sebab, rumah adalah tempat pertama anak membangun kelekatan dan kepercayaan.
“Ketika mereka tahu salah satu atau kedua orang tuanya berselingkuh, biasanya muncul perasaan tidak aman, cemas, dan kebingungan karena realita berbeda dari citra orang tua yang selama ini mereka miliki,” jelas Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH CHt CPHt.

Akan timbul konflik internal pada diri anak, terutama saat menghadapi suara-suara keras, pertengkaran, atau perubahan sikap orang tua. Mereka mulai waspada dan mencemaskan kemungkinan terburuk, seperti perceraian. Hal itu membuat anak kehilangan rasa aman, menjadi lebih sensitif, mudah marah, sedih, dan kesulitan mengatur emosinya.
Dampak psikologis tersebut bisa terbawa hingga masa dewasa dalam bentuk trauma jangka panjang. Anak yang menyaksikan atau mengetahui perselingkuhan orang tuanya kerap tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan mempercayai orang lain, baik dalam pertemanan maupun hubungan asmara.
“Beberapa klien saya, saat dewasa, mengalami kecemasan kronis, hidupnya jadi sangat tegang. Ada juga yang mematikan emosinya sebagai mekanisme bertahan. Misalnya saat ditanya ‘kamu senang?’ jawabannya datar: ‘biasa saja’,” ujar konselor profesional pernikahan dan keluarga itu.
Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua ketika anak mengetahui adanya perselingkuhan? Ratna menyarankan agar orang tua tidak berbohong atau menyangkal secara total. “Apa yang anak pikirkan perlu diluruskan, dan apa yang mereka rasakan harus divalidasi. Jangan mengecilkan perasaan anak,” tegasnya.
Ratna menekankan pentingnya menyesuaikan penjelasan dengan usia anak. Pada anak-anak, cukup katakan bahwa ada konflik antara ayah dan ibu, sambil menekankan bahwa cinta orang tua kepada anak tidak berubah. Untuk remaja, ajak mereka berdiskusi terbuka tentang pilihan hidup orang dewasa tanpa menjelekkan personal salah satu pihak.
Namun, bagaimana jika anak belum tahu soal perselingkuhan? Apakah perlu diberi tahu? Ratna menyarankan untuk tidak menceritakan secara detail jika anak memang belum tahu. Sebaiknya fokus pada pemenuhan kebutuhan emosional dan rasa aman anak.
“Tapi kalau anak mulai curiga atau justru mengetahui dari orang lain, jangan disangkal mentah-mentah karena justru bisa merusak kepercayaan anak kepada kita,” imbuh Ratna.
.
Artikel ini telah tampil pada koran Jawa Pos – rubrik Parenting (13/07/2025 hal.17)

https://jawapos.com/nasional/2507110487/begini-dampak-perselingkuhan-orang-tua-terhadap-psikis-anak

Peran orang tua yang tidak berselingkuh juga sangat penting dalam menjaga kestabilan emosi anak dan meminimalkan dampak psikis yang terjadi. Ortu perlu menjadi contoh dalam mengelola emosi secara sehat, bukan hanya lewat nasihat, tapi lewat tindakan nyata. Kehadiran rutin dan konsisten dari orang tua akan menciptakan ruang aman bagi anak untuk tetap tumbuh stabil.

“Jangan hilangkan rutinitas, tetap hadir, dan kalau memang tidak sanggup sendirian, tak ada salahnya membangun support system dari luar. Bisa dari keluarga, atau tenaga profesional,” sambung founder Ertamentari Psikolog Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH CHt CPHt.

Hal itu bertujuan agar anak tidak merasa sendirian dalam situasi yang emosional dan rumit. Orang tua juga perlu waspada terhadap tanda-tanda anak memerlukan bantuan profesional, seperti perubahan perilaku drastis, penurunan prestasi akademis, kecenderungan menarik diri, atau bahkan perilaku melukai diri (self-harm).

“Jika sudah menunjukkan gejala depresi, cemas berlebihan, dan tidak mau melakukan aktivitas apa pun, segera cari pertolongan profesional,” ujarnya.

Perselingkuhan memang keputusan pribadi orang dewasa. Namun, ketika anak ikut terdampak, maka cara orang tua menyikapi dan mengelola konflik rumah tangga menjadi sangat menentukan kesehatan mental anak di masa depan. Validasi, kejujuran yang bijak, dan kasih sayang yang konsisten bisa menjadi penawar bagi luka emosional yang terbentuk.
.
Artikel ini telah tampil pada koran Jawa Pos – rubrik Parenting (13/07/2025 hal.17)

https://jawapos.com/parenting/2507120051/orang-tua-tetap-hadir-dan-beri-ruang-aman-untuk-anak-jangan-ragu-cari-bantuan-profesional