Supaya anak tidak tumbuh menjadi People Pleaser

by -0 views

Supaya Anak Tidak Tumbuh Menjadi People Pleaser: Ajarkan Batasan, Tidak Melulu Menyuruh Mengalah dan Berbagi
Terus menyuruh anak berbagi dan mengalah tidak selalu tepat. Apalagi tanpa memberi penjelasan mengapa harus berbuat demikian. Anak bisa tumbuh menjadi people pleaser ketika dewasa. Saat mengajari si kecil berbagi, ajarkan pula soal batasan.

ORTU tentu senang melihat anaknya memiliki kepedulian dan empati yang tinggi terhadap orang lain. Karena itu, ortu mengajari anak untuk berbagi dan mengalah. Namun, ajaran itu harus dibarengi dengan pemahaman terhadap batasan dan hak anak.

”Anak patut tahu dirinya punya kebutuhan. Itu jadi salah satu batasan yang perlu kita ajarkan. Misal, mainan miliknya adalah hak dia, mengajarkan berbagi dan mengalah bukan berarti memberikan mainannya ke orang lain,” tutur Ratna Sari MPsi Psikolog CH CHt CPHt.

Anak yang tidak diberi batasan akan kebingungan. Akibatnya, kesulitan menolak apa pun yang diminta orang lain. Ortu juga perlu menekankan bahwa anak berhak memperjuangkan kebutuhan dan keinginannya. Namun, harus berjalan seimbang.

”Terkadang kita perlu menunda keinginan itu. Misal, membiarkan adiknya main dulu dengan mainan miliknya, bukan berarti dia tidak bisa bermain lagi dengan mainan kesukaannya,’’ beber founder Ertamentari Psikolog Surabaya itu.

Ratna mengingatkan ortu untuk tidak memerintahkan anak berbagi atau mengalah tanpa penjelasan. Ketika mainannya direbut adiknya, misalnya. Tunggu dan lihat dulu strategi yang akan diambil anak saat berada di situasi tidak nyaman tersebut.

”Barulah tugas ortu memberikan penjelasan mengapa harus mengalah. Jelaskan, misal dia masih punya hal lain yang bisa dimainkan sedangkan adiknya butuh itu. Jangan malah, ’Udah ngalah aja, adik kan masih kecil.’ Kalau seperti itu, anak akan merasa tidak dicintai,” lanjutnya.

Meski begitu, anak yang suka mengalah belum tentu saat dewasa jadi people pleaser. Sebab, kemampuan pengelolaan emosi, kognitif, dan kepribadian anak-anak masih terus berkembang. Apabila kecenderungan untuk selalu mengalah terus menetap hingga usia 18 tahun ke atas, barulah bisa disebut sebagai gangguan.

”Kecenderungan lain people pleaser itu selalu setuju, lebih ke pasrah karena menghindari konflik dan takut mengecewakan orang lain. Anak nggak pede dan takut menyampaikan pendapat, serta ragu dalam mengambil keputusan sehingga bergantung pada orang lain,” jelas Ratna.

Ratna Sari MPsi Psikolog CHCHt CPHt
Psikolog klinis itu mengatakan, sifat people pleaser bisa berdampak baik dan buruk. Anak lebih peduli dan punya empati yang bagus. Di sisi lain, sulit mengekspresikan keinginannya. Akibatnya, susah menolak permintaan orang lain.

Di kondisi parah, orang justru memanfaatkannya. ”Akhirnya stres. Kalau nggak diatasi berdampak pada kecemasan karena terus berupaya memenuhi harapan orang supaya diterima, dihargai, atau dicintai,” imbuhnya.

Ortu harus merespons dengan bijak. Selain mengajarkan batasan, ajari anak memahami nilai dirinya dengan cara memberi apresiasi dan pujian. Libatkan anak dalam mengambil keputusan dan ajarkan untuk menolak jika tidak nyaman. Motivasi anak agar lebih percaya diri dengan menjadi role model yang baik.

”Misal ada temannya main ke rumah, ’Tante, pinjam ini ya.’ Ngomong dulu ke anak boleh tidak mainannya dipinjam temannya, bukan langsung memutuskan sepihak. Supaya anak juga merasa dihargai atas kepemilikannya,” ucapnya.

BAGAIMANA SIKAP ORTU?