Pengaruh Masa Lalu Orang Tua dan Pola Asuh Anaknya.

by -67 views

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang ditemui individu sejak mereka lahir ke dunia. Lingkungan keluarga pertama adalah Ayah, Ibu dan individu itu sendiri.
Hubungan antara individu dengan kedua orangtuanya merupakan hubungan timbal balik dimana terdapat interaksi di dalamnya.

Setiap orang tidak terlepas dari masa lalu yang menyedihkan atau menyakitkan. Hampir setiap orang pernah mengalami peristiwa tidak menyenangkan di masa lalu.
Sebuah peristiwa yang tidak dapat terlupakan bahkan masih terbawa hingga saat ini.
Kita sudah berusaha untuk melupakannya, tapi sesekali masih terlintas di pikiran secara tidak sadar

Kita tidak bisa mengubah masa lalu tapi kita bisa mengatur bagaimana sudut pandang akan masa lalu. “Jika Anda bisa mengambil nilai di masa lalu, besar kemungkinan untuk menetralisir efek dari masa lalu.” (Harold H. Bloomfield)

Secara spesifik setiap rangkaian peristiwa atau pengalaman buruk yang dialami orang tua pada masa kanak-kanak akan membuat anak-anak mereka nantinya ikut merasakan kesulitan pada awal masa perkembangan.

Perlu adanya dukungan ekstra kepada orang tua yang memiliki pengalaman traumatis di masa kecil sehingga dapat membantu memperbaiki kondisi mental dan psikologis mereka.
Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pola asuh untuk kehidupan anak-anak mereka di masa mendatang.

Pola asuh menurut Diana Baumrind (1967), pada prinsipnya merupakan parental control yaitu bagaimana orangtua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak-anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan.

Diana Baumrind membagi pola asuh ke dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu:

  • Pola asuh Otoriter (authoritarian parenting)

Orangtua dengan tipe pola asuh ini biasanya cenderung membatasi dan menghukum. Mereka secara otoriter mendesak anak untuk mengikuti perintah dan menghormati mereka.
Orangtua dengan pola ini sangat ketat dalam memberikan
Batasan dan kendali yang tegas terhadap anak-anak, serta komunikasi verbal yang terjadi juga lebih satu arah.
Orangtua tipe otoriter umumnya menilai anak sebagai obyek yang harus dibentuk oleh orangtua yang merasa “lebih tahu” mana yang terbaik bagi anak-anaknya.
Anak yang diasuh dengan pola otoriter sering kali terlihat kurang bahagia, ketakutan dalam melakukan sesuatu karena takut salah, minder, dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah.

  • Pola asuh Demokratis/otoritatif (authotitative parenting)

Pola pengasuhan dengan gaya otoritatif bersifat positif dan mendorong anak-anak untuk mandiri, namun orangtua tetap menempatkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka.
Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, serta pendekatan yang dilakukan orangtua ke anak juga bersifat hangat.
Pada pola ini, komunikasi yang terjadi dua arah dan orangtua bersifat mengasuh dan mendukung.
Anak yang diasuh dengan pola ini akn terlihat lebih dewasa, mandiri, ceria, mampu mengendalikan diri, beriorientasi pada prestasi, dan mampu mengatasi stresnya dengan baik.

  • Pola asuh Permisif (permissive parenting)

Orangtua dengan gaya pengasuhan ini tidak pernah berperan dalam kehidupan anak. Anak diberikan kebebasan melakukan apapun tanpa pengawasan dari orangtua.
Orangtua cenderung tidak menegur atau memperingatkan, sedikit bimbingan, sehingga seringkali pola ini disukai oleh anak.
Orangtua dengan pola asuh ini tidak mempertimbangkan perkembangan anak secara menyeluruh. Anak yang diasuh dengan pola ini cenderung melakukan pelanggaran-pelanggaran karena mereka tidak mampu mengendalikan perilakunya, tidak dewasa, memiliki harga diri rendah dan terasingkan dari keluarga.

Orangtua yang pada umumnya menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, namun tanpa disadari juga melakukan kesalahan dalam penerapan pola asuh terhadap anak-anak.

Kesalahan-kesalahan tersebut seperti :

  • Memberi banyak pilihan
  • Terlalu dimanjakan
  • Membuat anak sibuk
  • Kepintaran dianggap paling penting
  • Menyembunyikan topik se
    nsitif seperti seks
  • Terlalu sering mengkritik
  • Membebaskan anak nonton tv atau main gadget
  • Terlalu melindungi anak dsb.