Kimia CINTA (Feromon)

by -54 views

Sifat dari senyawa Feromon ini tidak dapat dilihat oleh mata, volatil (mudah menguap), tidak dapat diukur tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia.

Senyawa ini dikeluarkan saat tubuh berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita kenakan.

Menurut para peneliti senyawa ini dapat mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh dan otak kecil manusia.

Senyawa ini mempunyai andil dalam menimbulkan rasa ketertarikan manusia pada manusia lain, baik itu perasaan cinta, suka, gairah bahkan saat memilih orang untuk dijadikan teman yang cocok.

Senyawa Feromon dapat menimbulkan rasa ketertarikan antara dua orang yang berlainan jenis dengan bekerja layaknya inisiator atau pemicu dalam reaksi kimia.

Prosesnya ada lah ketika dua orang berdekatan dan bertatap mata, maka Feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yakni Vomeronasalorgan (VNO). Organ ini terletak di dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar dari indra penciuman.

Organ VNO terhubung dengan hipotalamus pada bagian tengah otak yang terhubung melalui jaringan-jaringan syaraf.

Saat Feromon tercium oleh VNO dan selanjutnya sinyal ini akan diteruskan ke hipotalamus yang mengatur emosi manusia agar memberikan tanggapan.

Tanggapan dari otak melalui perubahan psikologis tubuh manusia, baik itu perubahan pada detak jantung, pernafasan, temperatur tubuh, nafsu dan peningkatan kelenjar hormon.

Kelenjar keringat meningkat dan kerja dari produksi hormon testoteron pada pria dan hormon estrogen pada perempuan.

Hipotalamus akan merangsang pembentukan senyawa kimia lain, yaitu senyawa phenyletilamine (PEA), dopamine, nenopinephrine, senyawa endropin dan senyawa oksitosin. Senyawa-senyawa ini akan bertindak sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Senyawa PEA, dopamine dan nenopinephrine memberikan reaksi tersipu-sipu malu atau malu ketika berpandangan dengan orang yang dicintai.

Senyawa endropin akan menimbulkan rasa aman, damai dan tenteram. Senyawa oksitosin berperan dalam membuat rasa cinta itu rukun dan mesra di antara keduanya.

Selanjutnya efek dari senyawa feromon dan senyawa kimia lainnya terhadap tubuh manusia akan membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau idamannya sesering mungkin.

Masalahnya produksi senyawa ini tidak berlangsung terus menerus, kemampuan tubuh menghasilkan senyawa tersebut mulai berkurang setelah dua sampai empat tahun.

Perasaan jatuh cinta selang beberapa waktu akan menghilang sedikit demi sedikit, akibatnya rasa tertarik akan meluntur ketika tubuh tidak memenuhi kebutuhan PEA. Namun otak akan tetap berusaha memproduksi senyawa oksitosin jika kedua pasangan berusaha saling menyayangi dan setia.