Senyuman anak setelah tikam ibu kandung 151 kali.

by -177 views

⏩ Isabella Guzman Pembunuh Ibu Kandung

Remaja yang Viral karena Senyum Setelah Tikam Ibunya

Isabella Guzman, wanita yang viral karena tersenyum setelah membunuh ibu kandungnya sendiri, dibebaskan dari hukuman. Pengadilan memutuskan tidak menghukumnya karena gangguan kejiwaan yang diidapnya.

Wanita asal Colorado, Amerika Serikat, yang menikam sang ibu hingga 151 kali pada 2013 ini didiagnosa paranoid schizophrenia. Suatu kondisi yang menyerang mental.

Seperti dikutip dari Psycom, paranoid schizophrenia, merupakan jenis penyakit turunan dari schizophrenia. Gangguan ini menyebabkan penderitanya sering berkhayal dan berhalusinasi.

Psikiater Dr. Richard Pounds, menyebutkan adanya tanda-tanda nyata halusinasi pada wanita yang membunuh ibunya ketika ia berusia 18 tahun itu. Richard merupakan salah satu tim dokter yang memeriksa kondisi kejiwaan Isabella Guzman.

“Tatapannya kosong, berbicara dengan seseorang yang tidak ada, dan tertawa sendirian,” kata Richard, seperti dikutip dari Daily Mail.

Psikolog Dina Cagliostro, PhD, dalam ulasannya tentang paranoid schizophrenia, menjelaskan bahwa salah satu gejala gangguan ini adalah penderita tidak dapat membedakan mana yang nyata dan hanya khayalan atau halusinasi. Hal ini membuatnya sulit menjalani kehidupan seperti orang pada ummnya.

Jika schizophrenia hanya terjadi pada 1,1 persen orang dari populasi orang di seluruh dunia maka penderita paranoid schizophrenia lebih banyak. Bahkan dinyatakan sebagai jenis gangguan mental kronis paling umum.

“Rata-rata yang mengalami gangguan ini mereka yang baru memasuki usia dewasa antara 18 – 30 tahun. Sangat jarang schizophrenia dialami oleh orang di atas usia 45 atau sebelum 16,” tulis Dina.

Sejumlah gejala bisa dialami penderita paranoid schizophrenia seperti Isabella Guzman. Ini beberapa gejalanya seperti dipaparkan Mayo Clinic.

Delusi atau suka berkhayal. Bukan khayalan biasa yang hanya mengawang-awang di pikiran. Dalam kasus ini, khayalan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Misalnya saja merasa dirinya disakiti atau dikasari, memiliki kekuatan tertentu, merasa terkenal, merasa dikuntit, orang jatuh cinta padanya padahal tidak, atau menganggap gestur tubuh seseorang sebagai ancaman.

Halusinasi. Biasanya ditandai dengan melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ada juga yang merasa menyentuh atau mencium sesuatu yang tidak nyata tapi kebanyakan pengidap paranoid schizophrenia akan merasa mendengar hal-hal di luar nalar.

Keras kepala. Mereka tidak bisa dibantah tentang hal-hal atau keyakinan tak biasa yang ada di pikirannya.

Tidak bisa berpikir secara jernih yang menyebabkan mereka kesulitan mengucapkan kata-kata. Saat menjawab pertanyaan atau menjelaskan sesuatu, disampaikan setengah-setengah, tidak sinkron atau mengucapkan kata-kata yang sulit dimengerti.

Mengasingkan diri dari keluarga dan teman-teman. Maka dari itu seorang penderita paranoid schizophrenia cenderung memilih hidup sendirian atau mengurung diri di kamar.

Fungsi normal terganggu. Umumnya ditandai dengan ketidakpedulian terhadap kebersihan dan perawatan diri atau tidak tertarik melakukan aktivitas sehari-hari. Pada beberapa kasus, mereka seperti tidak mempunyai emosi, misalnya saja menghindar kontak mata dengan orang lain, ekspresi wajah tak berubah atau berbicara dengan intonasi datar.

Perlu diingat bahwa gejala paranoid schizophrenia bisa berbeda-beda pada tiap orang. Tergantung tingkat keparahannya. Sejumlah tes juga harus dilakukan oleh tenaga profesional untuk mendiagnosa apakah seseorang benar mengidap paranoid schizophrenia atau gangguan kejiwaan lain.

Dalam kasus Isabella Guzman, ia baru dinyatakan bebas satu tahun setelah peristiwa berdarah itu terjadi. Diagnosa paranoid schizophrenia dikeluarkan setelah pakar kejiwaan memeriksanya secara intensif.

Artikel ini telah ditayangkan oleh Wolipop.detik
https://wolipop.detik.com/health-and-diet/d-5166226/isabella-guzman-pembunuh-ibu-kandung-sakit-paranoid-schizophrenia-apa-itu

▢️ Sebuah FAKTA PENYIMPANGAN PERILAKU.

Ratna Sari S.Psi.,M.Psi.Psikolog
Founder ERTAMENTARI Psikolog Surabaya
Clinical Psychologyst
πŸ“² 081231.767999
🌐 www.ertamentaripsikolog.com
🌐 www.psikologsurabaya.com

“Permasalahan kesehatan mental adalah hal yang serius dan dapat membawa konsekuensi resiko negatif terhadap penyimpangan perilaku dan kelangsungan sosialisasi yang sehat.” Bagaimana sesungguhnya dengan kepribadian pelaku?

Pelaku merasa semua yang ia rasakan adalah sesuatu yang normal dan sesuatu yang pantas ia dapatkan (tidak lagi bisa membedakan salah dan benar), sehingga ketika melakukan hal yang salah pun tidak akan menyesalinya.
Sosialisasinya pun nampak normal dan juga mampu berpikir secara logis karena pelaku sangat mampu melakukan peran yang manipulatif.
Bahkan pelaku mampu memainkan peran “playing victim” memposisikan diri seolah-olah sebagai korban dan tidak bertanggungjawab atas apapun yang pernah terjadi (pelaku tidak merasa bersalah atas situasi yang dia ciptakan sendiri).

Bagaimana perilaku menyimpang anak dapat terjadi ?

πŸ“ŒAnak tidak mampu mengontrol emosi dalam menghadapi setiap tekanan atau masalah. Anak tidak dilatih bagaimana reaksi diri yang seharusnya dalam menghadapi kekecewaan secara obyektif. Yang muncul adalah sikap destruktif bahkan melanggar norma.

πŸ“Œ Pengaruh pergaulan yang buruk anak dari kebersamaan dalam kelompok dapat mengakibatkan anak mengadopsi perilaku menyimpang dari kelompok bermainnya. Apalagi di rumah anak merasa tertekan atau diabaikan.

Proses perubahan perilaku anak membutuhkan proses bertahap dan berulang, dibutuhkan kesabaran karena anak selalu terpapar nilai atau rangsangan dari luar.
Andapun harus menyadari adanya proses imitasi (peniruan) oleh anak, baik positif maupun negatif secara tanpa sadar.

🌟 Senantiasa menjaga dan memelihara kedekatan emosional dengan anak untuk mencegah munculnya perilaku menyimpang pada anak.
Bersedia mendengarkan dengan sungguh-sungguh keluhan atau alasan anak dan bersikap mau memahaminya.

🌟 Sikap keras orangtua dalam usaha memegang kendali atas anak acap kali gagal dalam mengupayakan kepatuhan dan perubahan perilaku anak. Berusahalah menahan diri dan bersikap bijaksana.

🌟 Lakukan pendekatan kepada anak sehingga anak merasa diperhatikan, dipedulikan, dilindungi, dihargai dan merasa nyaman. Anak mendapat dukungan emosional cenderung bersikap tenang dan tidak mudah emosi.